Minggu, 01 November 2009

Cerita, "Tukang Kayu"

1 komentar
Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan perumahan. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya. Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya. Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan.

Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta oleh tuannya. Hasilnya bukanlah sebuah rumah yang baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan. Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu.

“Ini adalah rumahmu” katanya, “hadiah dari kami.” Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

*****

Sahabat, itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadang, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan dan kurang bertanggung jawab. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik.

Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan 'rumah' yang sedang kita bangun adalah ekhidupan kita. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan 'rumah' kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup.

Terima kasih telah membacanya,,,jazakallah,,,


Cerita, "Pakaian"

0 komentar
Suatu ketika, hiduplah sebuah keluarga yang sederhana. Mereka tak kaya, walaupun juga tidaklah miskin. Pada suatu malam, saat keluarga itu sedang bersiap untuk makan, ada sebuah ketukan di pintu depan rumah mereka. Sang Ayah lalu menghampiri pintu itu, dan membukanya.

Disana, berdiri seorang pria tua, yang berpakaian kumuh, dengan celana yang koyak, dan baju dengan beberapa buah kancing yang hilang. Pria itu rupanya penjual buah-buahan. Ia bertanya apakah keluarga itu membutuhkan hidangan penutup. Sang Ayah segera mengiyakan, sebab, ia ingin agar pria itu segera pergi.

Namun, lama kemudian, hubungan itu menjadi semakin erat.

Setiap minggu, pria tua itu selalu membawakan sekeranjang buah-buahan pada keluarga tadi. Dan keluarga itu juga selalu membelinya. Keluarga itu juga menyadari, ternyata pria tua itu juga hampir buta, akibat katarak yang di deritanya. Tetapi, pria tua itu begitu bersahabat, sehingga, keluarga itu pun menyadari bahwa, ia orang yang menyenangkan. Dan mereka selalu menantikan kehadiran pria dengan keranjang buah itu.

Suatu hari, saat hendak menyampaikan buah-buahan, pria tua itu berkata, "Aku punya anugrah yang sangat besar kemarin. Aku menemukan sekeranjang pakaian yang ditinggalkan seseorang buatku di depan rumah. Rupanya, ada yang ingin memberikan keranjang itu buatku."

Keluarga tadi, yang yakin bahwa pria itu sangat membutuhkan pakaian, lalu berujar, "Ya, bagus sekali. Anda pasti senang sekali dengan anugrah itu."

Pria tua yang hampir buta itu lalu berkata lagi, "Namun, anugrah terbesar yang aku dapatkan adalah, aku menemukan keluarga lain yang lebih patut menerimanya daripadaku.

~~~

Sahabatku, ini adalah sebuah cermin buat kita. Cermin dimana kita bisa berkaca, dan memahami, bahwa, terlalu sering kita merasa tak cukup dengan semua pemberian Allah. Terlalu sering, kita berpikir, bahwa, kitalah yang paling berhak untuk di tolong, yang paling cocok, untuk mendapatkan pemberian.

Kita, kadang terlalu serakah, terlalu tamak dengan semua anugrah yang Allah berikan buat kita. Seakan-akan, semua yang kita dapatkan, HANYALAH, buat kita sendiri. Padahal, kita semua tahu, dalam setiap anugrah yang kita dapatkan, terselip juga hak-hak orang lain. Dan, akibat ketamakan itu, kitapun kadang enggan untuk berbagi. Enggan untuk menyampaikan anugrah itu kepada yang lebih patut, dan lebih berhak menerimanya.

Saya jadi teringat, kata-kata Pak Mario Teguh, saat ditanya, "Kenapa ada orang yang selalu merasa kurang dan kurang?", kemudian jawab beliau kurang lebih "Orang yang berhak merasa kurang, adalah mereka yang suka memberi, karena dia ingin memberikan sesuatu yang bermanfaat sebanyak-banyaknya kepada mereka yang membutuhkan"

Sahabatku, masih banyak saudara kita, yang mungkin nasibnya tidak sebaik kita... termasuk saudara-saudara kita yang menerima ujian gempa di Padang.

So, saatnya berbagi Sahabatku! ^_^

Jazakumullah telah membaca cerita ini... semoga bermanfaat...


Cerita, "Anak Kecil"

0 komentar
Suatu ketika terlihat dua anak kecil kakak beradik sedang berebut sebuah mainan di depan teras rumah. Mereka memperebutkan sebuah mainan robot-robotan.

“Mainan ini miliku!” kata anak itu sanbil menarik mainan robot yang di pegang adiknya.

“Adik pinjam sebentar!” kata sang adik sambil memegang mainan tersebut.

“Ga boleh, kakak mau main!” kata sang kakak. Karena tidak sabar, sang kakak mulai memukul kepala sang adik.

“Waaaaaaaaaaa, kakak jahat, kakak jahat!” sang adik menangis dan berlari menuju ibunya. Sang Ibu terlihat berusaha mendiamkan dengan mencarikan mainan pengganti.

Tak lama kemudian, sang adik mendekati kakaknya, dan memamerkan mainan barunya kepada kakaknya.

“Mainanku lebih bagus!” dengan bangga sang adik berbicara kepada kakaknya.

“Ah, biasa aja! Yuk main bareng!” ajak sang kakak kepada adiknya.

Kemudian sang adik bermain bersama kakaknya kembali dengan canda dan tawa. Sang adik melupakan rasa sakitnya karena dipukul oleh kakaknya tadi.

~~~

Sahabatku, seharusnya kita malu kepada sikap anak-anak kecil. Mereka mudah sekali melupakan dan memaafkan kesalahan saudaranya sendiri. Tidak butuh waktu lama mereka untuk akur kembali. Bahkan mereka tidak membutuhkan kata maaf dari saudaranya.

Sungguh beda dengan diri kita. Berat sekali kita memaafkan kesalahan seseorang. Jangankan yang belum meminta maaf, yang sudah meminta maafpun kita merasa berat untuk memberikan kata maaf. Bahkan kita enggan menatap wajahnya. Memendam kemarahan hingga bertahun-tahun. Tanpa sadar kita telah memendam banyak bara amarah dalam diri kita.

Sahabatku, belajarlah utuk mudah memaafkan orang lain. Lupakanlah kesalahan mereka, dan sebaliknya ingatlah selalu jasa mereka. Buanglah bara-bara amarah dalam diri kita ini dengan pemberian maaf yang tulus dan ikhlas. Bahkan ketika mereka belum meminta maaf kepada kita.

Yakinlah, suatu saat anda akan terkejut, bahwa hidup ini ternyata sungguh jauh lebih indah dari biasanya, Insya Allah.

Jazakumullah telah membaca cerita ini, semoga bermanfaat....



Cerita, “Ayla”

0 komentar
Ayla. Nama yang indah untuk seorang gadis. Namun sayang, perlakuan yang mereka terima, tidak setara dengan nama indah yang mereka sandang. Karena memang, Ayla dalam kisah ini bukanlah sebuah nama bagi seorang gadis. Tapi, Ayla, adalah julukan bagi sebuah profesi yang dinistakan.

Ayla, atau Anak-anak Yang di Lacurkan, adalah komunitas kecil anak-anak gadis yang tinggal di temaram lampu-lampu taman. Usia mereka masih sangat muda, berkisar antara 11 hingga 18 tahun. Mereka hadir, dan terpaksa tinggal di jalan, menjajakan diri, mendapat perlakuan kasar, dengan imbalan yang tak setimpal.

Dengan modal ember, yang diisi beberapa minuman ringan dan rokok, mereka dipaksa untuk mencari tamu. Mereka berdiri berjejer di pinggir jalan, atau menunggu dalam tenda-tenda kecil di pojok taman. Setiap orang boleh menyentuh mereka, asalkan mau membeli minuman yang mereka jual. Mereka tak bisa menolak untuk di raba dan dipegang, karena tuntutan setoran yang harus dipenuhi. Bahkan tak jarang, anak-anak yang masih belia itu, terpaksa melacurkan diri untuk mendapatkan uang lebih banyak.

Suatu ketika, ada seorang anak yang kami temui dalam sebuah penelitian. Dia masih amat belia. Sebut saja namanya, Isah. Mungkin, usianya baru 15 tahun. Dia kami temui di sebuah taman di bilangan Prumpung, Jakarta.

Kami, yang datang sebanyak 3 orang, mulai terlibat obrolan yang menyenangkan. Kami bertanya tentang apa yang dirasakan anak gadis ini. Dia pun bercerita tentang pengalaman pahitnya di jalanan. Kami juga bertanya apa yang menjadi harapan dan angan-angannya kelak, dan menawarkan bantuan agar dia terbebas dari tempat semacam ini. Dia tersenyum, dan menawarkan minuman ringan dagangannya.

Tak terasa, sudah banyak sekali yang disampaikan gadis ini. Harapannya tak banyak, angan-angannya tak muluk-muluk. Dia tampak senang sekali, saat mengetahui, kami datang untuk menanyakan kabarnya. Dia tampak bahagia, dan berharap kami datang sering datang untuk mendengar kisahnya. Ya, kami kembali tersenyum, dan berjanji untuk mau menjadi sahabatnya.

Sayang, kami harus kembali, kemudian, salah seorang teman bertanya, "Isah, kami harus bayar berapa untuk minuman ini? Dia hanya diam. Namun, tiba-tiba wajahnya memerah. Matanya berkaca-kaca. Sambil di pegangnya botol-botol itu, dia menatap kami satu-persatu. Nanar. Dia mulai menangis. Kami mulai bingung. Wajahnya menunduk, airmatanya berlinang.

"Mas, dan Mbak semua jahat. Mas bukan teman Isah. Nggak ada bedanya sama orang-orang itu!" "Isah ikhlas kasih itu buat Mas, nggak minta bayaran!" Kenapa Mas anggap Isah jualan buat gituan...?", ucapnya lirih, menahan tangis. Rupanya, dia merasa tersinggung, karena kami menganggap minuman itu sama dengan jasa yang dia berikan. Akhirnya kami bertiga berusaha menenangkannya dan meminta maaf. Dia bisa memahami setelah menjelaskan sikap kami. Dia pun kembali tersenyum.

~~~

Sahabatku, begitulah, harga diri, kehormatan yang dimiliki Isah, tetap tak bernilai di dalam dirinya. Ia, walaupun terpojok dengan profesi yang harus di jalaninya, tetap memiliki kebanggaan diri sebagai manusia, yang tak mau di lecehkan. Tekadnya tetap kuat, perasaannya tetap murni, bahwa tiap orang, tak pantas untuk dilecehkan, tak pantas untuk mendapat perlakuan tak setara.

Adakah kebanggaan diri itu terpatri dalam diri kita?

Begitulah, saat ini, saya merasa beruntung sekali, melewatkan malam ulang tahun saya, bersama mereka, Ayla. Kebetulan, pada malam ini pula, mereka mementaskan teater musik, yang berkisah tentang dunia yang mereka jalani. Sebuah teater yang menarik, dengan semua pemain yang terdiri dari para Ayla. Walaupun mereka bercerita, pada saat latihan, sering harus terhenti, karena ada yang menangis saat memainkan peran-peran itu.

Ya, saya bersyukur sekali kepada Allah, dapat menghabiskan malam ini bersama mereka. Menjadi teman bagi mereka, menjadi telinga bagi mereka. Saya senang sekali dapat menjadi orang yang mereka percayai, orang yang mereka anggap sahabat, pelindung, dan menjadi tempat untuk bercerita. Ada banyak hikmah dan pelajaran yang saya dapat dari mereka, dan hal itu, membuat saya semakin lengkap menjadi manusia.

Sekali lagi, terima kasih. Semoga Allah, akan menguatkan jemari ini untuk tetap menuliskan semua hikmah-hikmah-Nya. Semoga Allah, akan memberikan kekuatan pada saya untuk dapat meneruskan semua pelajaran yang diberikan-Nya. Semoga Allah memberikan saya kekuatan, dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan-Nya. Amin. Allahuma Amin.

Hope you are well and please do take care.
Wassalamualaikum wr wb. Salam hangat!!

(Tulisan dari sahabat Irfan)


Cerita "Kesombongan Atheis"

0 komentar
Suatu ketika seorang ateis menentang ulama besar Bagdad Hasan al-Bashri untuk berdebat tentang keberadaan Tuhan. Karena kepercayaan diri yang besar, laki-laki tak percaya Tuhan itu mengajukan syarat bahwa yang kalah harus dipancung, Al-Bashri pun sepakat.

Waktu yang mereka sepakati pun tiba. Di suatu tempat, masyarakat Bagdad berjubel untuk menyaksikan perdebatan teologis yang monumental itu. Mereka ingin tahu bagaimana ''nasib'' Tuhan ditentukan. Ketika Al-Bashri belum tiba, si Ateis telah berada di atas mimbar dan langsung berkoar-koar bahwa Tuhan hanya rekayasa manusia. Ia menunjukkan argumentasi bahwa Tuhan tidak ada, dan mereka yang percaya akan keberadaan Tuhan hanyalah orang-orang tolol yang gampang dibodohi halusinasi.

Menjelang zuhur, Al-Bashri belum juga tiba. Hadirin mulai cemas. Sementara itu, si ateis tampak gembira, seolah-olah kemenangan sudah digapainya.

''Lihatlah, guru kalian tidak datang. Ia tahu akan kalah, maka dia memilih tidak hadir untuk menghindari maut. Akulah yang menang. Tuhan tidak ada. Ikutilah aku,'' teriaknya.

Tiba-tiba Al-Bashri datang tergopoh-gopoh saat forum itu hendak disudahi dan kemenangan bagi si ateis sudah di pelupuk mata. Dengan nada menyentak si ateis bertanya, ''Kenapa kamu datang terlambat? Kamu takut kalah dan takut dipenggal, ya?''

''Maaf,'' jawab Al-Bashri serius. ''Sebenarnya sejak pagi aku telah berusaha menuju tempat ini. Seperti kamu ketahui, untuk menuju ke sini, aku harus melintasi sungai Tigris. Namun, tidak biasanya, di sungai itu tidak ada satu pun perahu melintas. Akhirnya aku shalat dan berdoa kepada Tuhan. Cukup lama aku berdoa, lalu aku melihat papan-papan bertebaran di sungai itu. Lalu papan-papan itu menyusun satu sama lainnya menjadi sebuah perahu. Dengan perahu itulah aku melintasi sungai dan sampai di sini.''

Si ateis menyela, ''Ah, mustahil. Kamu dusta, kamu mengada-ada. Mana mungkin papan-papan itu tersusun menjadi perahu tanpa ada yang membuatnya?''

Hasan Al-Bashri menjawab, ''Ya, kamu benar. Itu mustahil. Mana mungkin papan-papan itu terbentuk perahu tanpa ada yang menyusunnya. Kalau begitu, mana mungkin jagat raya yang mahaluas ini berwujud, berjalan teratur dengan sendirinya, tanpa ada yang mencipta dan yang mengaturnya. Bagaimana mungkin darah, tulang, daging, kulit bisa terbentuk sendiri menjadi seperti kamu?''

Si ateis terdiam, tidak berkutik. Argumentasinya kalah oleh ucapannya sendiri. Hadirin tertegun dan memuji kebesaran Allah, Subhanallah. Benar kata nabi saw, ''Bertafakurlah tentang ciptaan Allah, dan jangan berpikir tentang wujud Allah.'' Akal dan kekuatan kita tidak akan pernah bisa mengetahui wujud Allah

Jazakumullah telah membaca cerita ini, semoga bermanfaat...
(author unknown)

Cerita "Lampu Lalu Lintas"

0 komentar
Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jack segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lenggang. Lampu berganti kuning. Hati Jack berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala. Jack bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.

Prit! Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jack menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing. Hey, itu khan Bob, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Jack agak lega. Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.

“Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!”

“Hai, Jack.” Tanpa senyum.

“Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri saya sedang menunggu di rumah.”



“Oh ya?” Tampaknya Bob agak ragu.

Nah, bagus kalau begitu. “Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong.”

“Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.”

O-o, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jack harus ganti strategi. “Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.” Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.

“Ayo dong Jack. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIMmu.”

Dengan ketus Jack menyerahkan SIM lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Bob menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Bob mengetuk kaca jendela. Jack memandangi wajah Bob dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bob kembali ke posnya.

Jack mengambil surat tilang yang diselipkan Bob di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jack membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bob.

“Halo Jack, Tahukah kamu Jack, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, Ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Jack. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. Bob”

Jack terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bob. Namun, Bob sudah meninggalkan pos jaganya entah kemana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak tentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan.

(author : www.resensi.net)