Kamis, 26 November 2009

Cerita, "Ujian Saringan Tiga Kali"

0 komentar
Di jaman Yunani kuno, Dr. Socrates adalah seorang terpelajar dan intelektual yang terkenal reputasinya karena pengetahuan dan kebijaksanannya yang tinggi.

Suatu hari seorang pria berjumpa dengan Socrates dan berkata, "Tahukah anda apa yang baru saja saya dengar mengenai salah seorang teman anda?"

"Tunggu sebentar," jawab Dr. Socrates.

"Sebelum memberitahukan saya sesuatu, saya ingin anda melewati sebuah ujian kecil. Ujian tersebut dinamakan Ujian Saringan Tiga Kali."

"Saringan tiga kali?" tanya pria tersebut.

"Betul," lanjut Dr. Socrates

"Sebelum anda mengatakan kepada saya mengenai teman saya, mungkin merupakan ide yang bagus untuk menyediakan waktu sejenak dan menyaring apa yang akan anda katakan. Itulah kenapa saya sebut sebagai Ujian Saringan Tiga Kali. Saringan yang pertama adalah KEBENARAN.

Sudah pastikah anda bahwa apa yang akan akan katakan kepada saya adalah benar?"

"Tidak," kata pria tersebut, "Sesungguhnya saya baru saja mendengarnya dan ingin memberitahukannya kepada anda".

"Baiklah," kata Socrates.

"Jadi anda sungguh tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak."
Sekarang mari kita coba saringan kedua yaitu KEBAIKAN.

Apakah yang akan anda katakan kepada saya mengenai teman saya adalah sesuatu yang baik?"

"Tidak, sebaliknya, mengenai hal yang buruk."

"Jadi," lanjut Socrates, "Anda ingin mengatakan kepada saya sesuatu yang buruk mengenai dia, tetapi anda tidak yakin kalau itu benar. Anda mungkin masih bisa lulus ujian selanjutnya, yaitu KEGUNAAN.

Apakah apa yang anda ingin beritahukan kepada saya tentang teman saya tersebut akan berguna buat saya?" "Tidak, sungguh tidak," jawab pria tersebut.

"Kalau begitu," simpul Dr. Socrates, "Jika apa yang anda ingin beritahukan kepada saya ... Tidak benar, tidak juga baik, bahkan tidak berguna untuk saya, kenapa ingin menceritakan kepada saya?"

(author : unknown)

~~~

Sahabatku, saya yakin anda sudah paham maksud cerita ini...

Jazakumullah telah membaca, semoga bermanfaat...

Senin, 23 November 2009

Cerita, "Keluarga Semut"

1 komentar
huh ... lelahnya aku seharian menyelesaikan pekerjaan kantor yang tak habis-habisnya. Kurebahkan tubuhku di lantai depan televisi, sementara kubiarkan TV menyala untuk tetap menjaga agar aku tidak terlelap. Suhu yang sedikit panas memaksaku membuka kemeja dan membiarkan kulitku bersentuhan dengan sejuknya lantai.

"aaauww ... brengsek!" gumamku
Segera kutepis sesuatu yang menggigit lenganku hingga ia terjatuh di lantai, ternyata seekor semut hitam.

"Kurang ajar! Apa ia tidak mengerti kepalaku begitu penat dan tubuhku ini seperti mau hancur? Apa ia juga tidak tahu kalau aku sedang beristirahat?" pikirku seraya kembali merebahkan tubuhku.

Tapi, belum sampai seluruh tubuh ini jatuh menempel lantai, "addduuhhh!" Lagi-lagi semut kecil itu menggigitku. Kali ini punggungku yang digigitnya dan gigitannya pun lebih sakit. "heeeh, berani sekali makhluk kecil ini," gerutuku kesal.

Ingin rasanya kulayangkan tapak tangan ini untuk membuatnya mati tak berkutik 'mejret' di lantai. Namun sebelum tanganku melayang, ia justru sudah mengacung-acungkan kepalan tangannya seperti menantangku bertinju. Kuturunkan kembali tanganku yang sudah berancang-ancang dengan jurus 'tepokan maut', kuurungkan niatku untuk menghajarnya karena kulihat mulutnya yang komat-kamit seolah mengatakan sesuatu kepadaku. Awalnya aku tidak mengerti apa yang diucapkannya, tapi lama kelamaan aku seperti memahami apa yang diucapkannya.

"Hey makhluk besar, anda menghalangi jalan saya! Apa anda tidak lihat saya sedang membawa makanan ini untuk keluarga saya di rumah ..." Rupanya ia begitu marah karena aku menghambat perjalanannya, lebih-lebih sewaktu punggungku menindihnya sehingga ia harus terpaksa menggigitku.

Akhirnya kupersilahkan ia melanjutkan perjalanannya setelah sebelumnya aku meminta maaf kepadanya. Susah payah ia membawa sisa-sisa roti bekas sarapanku pagi tadi yang belum sempat kubersihkan dari meja makan. Kadang oleng ke kanan kadang ke kiri, sesekali ia berhenti meletakkan barang bawaannya sekedar mengumpulkan tenaganya sembari membasuh peluhnya yang mulai membasahi tubuh hitamnya.

Kuikuti terus kemana ia pergi. Ingin tahu aku di pojok mana ia tinggal dari bagian rumahku ini. Ingin kutawarkan bantuan untuk membantunya membawakan makanan itu ke rumahnya, tapi aku yakin ia pasti menolaknya. Berhentilah ia di sebuah sudut di samping lemari es sebelah dapur. Di depan sebuah lubang kecil yang menganga, ia letakkan bawaannya itu dan kulihat seolah ia sedang memanggil-manggil semut-semut di
dalam lubang itu. Satu, dua, tiga .... empat dan .... lima semut-semut yang tubuhnya lebih kecil dari semut yang membawa makanan itu berlarian keluar rumah menyambut dengan sukaria makanan yang dibawa semut pertama itu. Dan, eh ... satu lagi semut yang besarnya
sama dengan pembawa roti keluar dari lubang. Dengan senyumnya yang manis ia mendekati si pembawa roti,
menciumnya, memeluknya dan membasuh keringat yang sudah membasahi seluruh tubuh semut pembawa makanan itu.

Hmmm ... menurutku, si pembawa roti itu adalah kepala keluarga dari semut-semut yang berada di dalam lubang tersebut. Kelima semut-semut yang lebih kecil adalah anak-anaknya sementara satu semut lagi adalah istri di pembawa roti, itu terlihat dari perutnya yang agak buncit. "Mungkin ia sedang mengandung anak ke enamnya" pikirku.

Semut suami yang sabar, ikhlas berjuang, gigih mencari nafkah dan penuh kasih sayang. Semut istri tawadhu' dan qonaah menerima apa adanya dengan penuh senyum setiap rizki yang dibawa oleh sang suami, juga ibu yang selalu memberikan pengertian dan mengajarkan anak-anak mereka dalam mensyukuri nikmat Tuhannya. Dan, anak-anak semut itu, subhanallah ... Mereka begitu pandai berterima kasih dan menghargai pemberian ayah mereka meski sedikit. Sungguh suami yang dibanggakan, sungguh istri yang membanggakan dan sungguh anak-anak yang membuat ayah ibunya bangga.

Astaghfirullah ..., tiba-tiba tubuhku menggigil, lemas seperti tiada daya dan brukkk .... aku tersungkur. Kuciumi jalan-jalan yang pernah dilalui semut-semut itu hingga menetes beberapa titik air mataku. Teringat semua di mataku ribuan wajah semut-semut yang pernah aku hajar 'mejret' hingga mati berkalang lantai ketika mereka mencuri makananku. Padahal, mereka hanya mengambil sisa-sisa makanan, padahal yang mereka ambil juga merupakan hak mereka atas rizki yang aku terima.

Air mataku makin deras mengalir membasahi pipi, semakin terbayang tangisan-tangisan anak-anak dan istri semut-semut itu yang tengah menanti ayah dan suami mereka, namun yang mereka dapatkan bukan makanan melainkan justru seonggok jenazah.

Ya, Allah ... keluarga semut itu telah mengajarkan kepadaku tentang perjuangan hidup, tentang kesabaran, tentang harga diri yang harus dipertahankan ketika terusik, tentang bagaimana mencintai keluarga dan dicintai mereka. Mereka ajari aku caranya mensyukuri
nikmat Tuhan, tentang bagaimana perlunya ikhlas, sabar, tawadhu' dan qonaah dalam hidup.

Hari-hari selanjutnya, ketika hendak merebahkan tubuh di lantai di bagian manapun rumahku aku selalu memperhatikan apakah aku menghambat dan menghalangi langkah atau jalan makhluk lainnya untuk mendapatkan rizki. Ingin rasanya aku hantarkan sepotong makanan setiap tiga kali sehari ke lubang-lubang tempat tinggal semut-semut itu. Tapi kupikir, lebih baik aku memberinya jalan atau bahkan mempermudahnya agar ia dapat memperoleh dengan keringatnya sendiri rizki tersebut, karena itu jauh lebih baik bagi mereka. (author : eramuslim)

Jumat, 20 November 2009

Cerita, “3 Pasien Jantung”

0 komentar
Suatu ketika di suatu negeri, terdapat Rumah Sakit yang cukup besar, dan sangat diakui akan kehandalannya. Dokter-dokter disanapun sangat mumpuni, baik pendidikan dan pengalaman mereka. Banyak dokter-dokter spesialis disana.

Hingga suatu ketika, tiba-tiba salah satu dokter senior sedang kebingungan terhadap ketiga pasiennya yang baru datang. Beliau ini adalah dokter spesialis jantung, entah apa titelnya, yang jelas beliau sangat ahli dalam jantung, termasuk mencangkok dan mengganti jantung.

Kebetulan, ketiga pasien ini dalam kondisi yang parah, yakni jatung mereka telah rusak. Dan jalan satu-satunya untuk di sembuhkan adalah dengan mengganti jantung mereka dengan jantung donor.

Pasien pertama adalah seorang laki-laki yang sudah cukup tua, umurnya sekitar 70-an. Beliau adalah seorang profesor. Beliau diantar dengan diringi keluarga dan para mahasiswanya.

“Pak dokter, tolonglah pak Profesor ini. Pemikiran beliau sangat berharga untuk pendidikan di negeri ini. Selamatkan dia pak dokter! Berikanlah dia kesempatan untuk menyelesaikan buku, yang sangat berharga bagi negeri ini!” Pinta para keluarga dan mahasiswanya.

Kemudian tak lama, pasien kedua datang. Beliau ini hanya laki-laki biasa berumur 30 tahunan, yang memiliki 3 anak yang masih kecil-kecil. Dan beliau adalah tulang punggung keluarganya dalam mencari rezeki.

“Tolong pak dokter! Sembuhkan suami saya pak dokter!” mohon sang istri kepada dokter dengan tangisannya. Terdengar pula tangisan anak-anak disana menatap ayahnya yang kaku tak bergerak.

Disaat bersamaan, datang pula keluarga yang membawa anaknya yang masih kecil, yang berumur sekitar 3 tahun. Ayah dan Ibu ini menangis meronta-ronta memohon kepada sang dokter agar anak mereka diselamatkan jantungnya.

“Tolong pak dokter, putri kami ini sangat kami nantikan kehadirannya hingga bertahun-tahun, hingga sekarang kami bisa mendapatkannya. Jadi tolonglah, berapapun biayanya akan saya bayar. Asal kami bisa melihat putri kami ini bisa tumbuh dewasa dan cantik” tangis dan pinta sang bunda.

….

Sang dokter termenung di ruang beliau. Butiran-butran air mata menetes mengalir di pipinya. Beliau kebingungan ketika melihat stok jantung donor hanya tinggal satu. Sedangkan yang membutuhkan 3 orang. Dan sangat tidak mungkin menunggu donor jantung dari negeri lain, karena membutuhkan waktu yang lama.

“Tidak ada jalan lain! Selain mengorbankan dua dari tiga pasien saya! Tapi yang mana yang harus saya pilih untuk diselamatkan?” Pikir keras beliau.

~~~

Sahabatku, mungkin anda merasakan juga kebingungan beliau. Tapi saya mencoba agar grup ini lebih interaktif. Silahkan bagaimana anda mengambil keputusan ketika sahabat sekalian dalam posisi sebagai dokter tersebut?

Silahkan balas pesan ini, dan tuliskan opini anda dan alasan anda, apakah anda memilih Profesor, atau Ayah dari anak-anak, ataukan anak kecil yang diselamatkan? Dan pastinya kedua pasien sisanya harus dikorbankan.

Jazakumullah telah membaca, kami tunggu jawaban anda sekalian. Insya Allah sebagian dari opini sahabat sekalian akan saya copy paste dan saya tampilkan di Grup CCM ini.

Salam Motivasi! ^_^

..............

.............


Lanjutan Cerita, “3 Pasien Jantung”

Salam Motivasi…

Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih kepada sahabat sekalian yang berkenan meluangkan waktu dan pikiran untuk ikut berbagi opini dalam cerita, “3 Pasien Jantung”. Sekitar tiga ratusan opini yang telah masuk, baik di inbox saya, atau di wall grup ini.

Sekilas saya perhatikan dari berbagai opini sahabat sekalian, kebanyakan anda cenderung mengambil keputusan untuk memlih : (dari yang terbanyak hingga yang paling sedikit)

1. Ayah dari ketiga anak.
2. Anak berumur 3 tahun
3. Profesor tua
4. Masih bingung dan ragu

Perlu sahabat sekalian ketahui, bahwa Cerita “3 Pasien Jantung” ini, dulu pernah saya sampaikan di dalam sebuah training kepemimpinan. Tujuan cerita ini memang disengaja agar terjadi konflik. Sehingga peserta training terpancing untuk mengutarakan opini mereka. Yang pada sebelumnya mereka malu, takut, dan bimbang mengutarakan pendapatnya. Alhamdulillah, salah satu tujuan training tercapai.

Perdebatan sehatpun muncul ditengah mereka. Mereka saling kukuh mempertahankan pendapatnya. Berbagai pendapat dan pemikiran mereka lontarkan semua. Sehingga materi training jadi terasa sangat hidup.

Kemudian mungkin masih ada pertanyaan dalam diri anda, ”lalu keputusan manakah yang paling benar?” sebuah pertanyaan yang sama dari para peserta training.

Jawaban saya simpel. Yakni jawaban anda benar semua, ketika anda memilih salah satu dari ketiga pasien tersebut. Dan yang salah adalah ketika anda masih dalam kebimbangan dan tenggelam dalam keraguan dan tidak berani mengambil keputusan. Bahkan hingga saat ini anda masih ragu.

(eit... sebentar... jangan protes dulu ya..! ^_^)

Sahabatku, mungkin kita semua pernah menghadapi suatu masalah yang dilematis. Ketika harus memutuskan A, bisa jadi salah, dan kalo B, bisa jadi salah juga. Sehingga tak jarang kita berputar-putar dalam kebimbangan dan keraguan, sehingga tanpa sadar permasalahan tersebut malah semakin bermasalah.

Itulah hikmah dari cerita ini. Keberanian, ketegasan dan kecepatan dalam mengambil keputusan adalah poin utama. Timbanglah segala masalah secukupnya dan sewajarnya, kemudian ambil keputusan. Dengan menyebut nama-Nya, yakinlah keputusan itu yang terbaik. Kalaupun toh keputusan tersebut salah, saya kira itu jauh lebih baik daripada anda tidak berani mengambil keputusan.

Maka saya ucapkan selamat bagi anda yang telah berani dan tegas dalam mengambil keputusan. Dan itu berarti anda berhak mendapatkan hadiah..., ya, hadiah sebuah doa dari saya. Semoga segala keputusan anda adalah keputusan yang terbaik! Amin.... he he.. ;)

Dan bagi anda yang masih ragu, dan belum mengambil keputusan. Atau yang sudah mengambil keputusan, tapi kurang tegas, karena masih ada keraguan dalam diri anda. Maka latihanlah untuk mengambil keputusan dengan tegas. Terutama bagi anda yang seorang pemimpin. Baik pemimpin perusahaan, Organisasi, atau anda seorang pemimpin keluarga. Dan saya yakin, anda sekalian paling tidak adalah seorang pemimpin bagi diri anda sendiri. Anda harus berani memutuskan dengan tegas, apa tindakan anda!

Jazakumullah telah membaca tulisan ini, semoga anda menjadi pribadi yang tegas dalam mengambil keputusan. Keputusan tuk menapaki setiap langkah kehidupan yang lebih baik, dan lebih baik lagi...

Salam Motivasi...!!!

Selasa, 17 November 2009

Cerita, "The Gift"

0 komentar
Menjelang hari raya, seorang ayah membeli beberapa gulung kertas kado.

Putrinya yang masih kecil, masih balita, meminta satu gulung.

"Untuk apa?" tanya sang ayah.

"Untuk kado, mau kasih hadiah." jawab si kecil.

"Jangan dibuang-buang ya." pesan si ayah, sambil memberikan satu gulungan kecil.

Persis pada hari raya, pagi-pagi si kecil sudah bangun dan membangunkan ayahnya, "Pa, Pa ada hadiah untuk Papa."

Sang ayah yang masih malas-malasan, matanya pun belum melek, menjawab, "Sudahlah nanti saja."

Tetapi si kecil pantang menyerah, "Pa, Pa, bangun Pa, sudah siang."

"Ah, kamu gimana sih, pagi-pagi sudah bangunin Papa."

Ia mengenali kertas kado yang pernah ia berikan kepada anaknya.

"Hadiah apa nih?"

"Hadiah hari raya untuk Papa. Buka dong Pa, buka sekarang."

Dan sang ayah pun membuka bingkisan itu. Ternyata di dalamnya hanya sebuah kotak kosong.

Tidak berisi apa pun juga. "Ah, kamu bisa saja. Bingkisannya koq kosong. Buang-buang kertas kado Papa. Kan mahal?"

Si kecil menjawab, "Nggak Pa, nggak kosong. Tadi, Putri masukin begitu buaanyaak ciuman untuk Papa."

Sang ayah terharu, ia mengangkat anaknya. Dipeluknya, diciumnya.

"Putri, Papa belum pernah menerima hadiah seindah ini. Papa akan selalu menyimpan boks ini. Papa akan bawa ke kantor dan sekali-sekali kalau perlu ciuman Putri, Papa akan mengambil satu. Nanti kalau kosong diisi lagi ya !"

~~~

Sahabatku, kotak kosong yang sesaat sebelumnya dianggap tidak berisi, tidak memiliki nilai apa pun, tiba-tiba terisi, tiba-tiba memiliki nilai yang begitu tinggi.

Apa yang terjadi ?

Lalu, kendati kotak itu memiliki nilai yang sangat tinggi di mata sang ayah, di mata orang lain tetap juga tidak memiliki nilai apa pun. Orang lain akan tetap menganggapnya kotak kosong.

Kosong bagi seseorang bisa dianggap penuh oleh orang lain. Sebaliknya, penuh bagi seseorang bisa dianggap kosong oleh orang lain.

Kosong dan penuh - dua-duanya merupakan produk dari "pikiran" kita sendiri.

Sebagaimana kita memandangi hidup, demikianlah kehidupan kita.

Hidup menjadi berarti, bermakna, karena kita memberikan arti kepadanya, memberikan makna kepadanya.

Bagi mereka yang tidak memberikan makna, tidak memberikan arti, hidup ini ibarat lembaran kertas yang kosong...........

Jangan memandang kehidupan ini dengan pesimis ... berikanlah arti dan makna untuk menjadikan hidup yang lebih baik ...

Lihatlah.... dengarlah.... Rasakanlah....sungguh amat besar nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita....

Bersyukurlah.....!

Jazakumullah telah membaca... Semoga hari anda selalu menyenangkan... ^_^

Salam Motivasi!

Cerita, ”Pohon Beringin dan Pohon Durian”

0 komentar
Saya teringat sebuah kisah yang diceritakan oleh Pak Zainudin MZ. Mungkin anda sudah pernah mendengar. Tapi tak mengapa, jika saya mencoba mengingatkan kembali kisah ini.

Suatu ketika ada pemuda yang sedang istirahat di bawah pohon beringin. Sambil tiduran, dia merenung, dan berkata,

”Heran, Allah itu tidak adil. Masak pohon beringin yang besar ini kok buahnya kecil-kecil.” katanya dalam hati.

”Sedangankan pohon durian, yang kecil pohonnya, tapi kok besar buahnya...” protes dia dalam hatinya.

Tiba-tiba sebutir buah beringin jatuh menimpa kepala pemuda itu, Tuk...!!

Sang pemudapun kaget, dari lamunannya... tiba-tiba dia beristighfar, meminta ampun kepada Allah atas tuduhannya bahwa Allah tidak adil”

Sahabatku, tahukah anda penyebab sang pemuda itu sadar akan kesalahannya?

Ya,... dia membayangkan jika pohon beringin itu memiliki buah seperti durian, pasti kepalanya remek (hancur) tertimpa buahnya... ^_^

~~~

Sahabatku, saya yakin pernah terbesit dalam diri anda merasakan bahwa Allah tidak adil. Kenapa nasip saya begini? kenapa dia begitu? Kenapa dia mendapatkan itu? sedang saya tidak? Pernahkah?

Jika pernah, maka mohonlah ampun kepada-Nya. Seperti kisah diatas, pemuda tersebut tidak akan sadar akan kesalahannya, sebelum tertimpa buah kecil dari pohon beringin tersebut. Yakinlah Allah Maha adil. Cuma, dari sebagian kejadian, mungkin kita belum tau dan belum paham akan hikmah dan maksud keadilan Allah dengan segala kejadian penciptaan-Nya tersebut.

Ah... sangat wajar saya kira, seberapa besar sih kemampuan otak manusia? Pasti memliki keterbatasan. Karena kita hanya makhluk. Sedangkan Allah adalah zat yang tak terbatas, Maha Segalanya..., karena Dia sang Kholik... Sang Pencipta... Allah yang Maha Adil...!

Jazakumullah telah membaca, semoga bermanfaat...

Salam Motivasi ! ^_^

Cerita, "Uang Logam"

0 komentar
Suatu ketika, ada seorang anak yang menemukan sebuah uang logam. Dia sangat senang sekali dengan apa yang ditemukannya. Dia mendapatkan uang, tanpa harus mengeluarkan tenaga. Tanpa bersusah payah, dia dapat membeli apa saja dengan uang yang ditemukannya itu. Ah, lalu dia berpikir untuk melakukan pekerjaan iini sampai sore nanti. Dia lalu menghabiskan hari itu dengan kepala menunduk, mata terbuka lebar, dan meneliti setiap pojok jalan dengan seksama.

Ya, anak itu melakukan kegiatan itu sampai akhir masa kanak-kanaknya. Dia memang menemukan banyak sekali uang dengan cara itu. Ada ratusan uang receh, puluhan uang kertas, beberapa perhiasan, sebuah liontin, dan banyak benda berharga lainnya yang dapat ditukarkan dengan uang dan mainan. Anak itu senang sekali dengan pekerjaan ini.

Memang, dia mendapatkan banyak uang dengan cara ini. Namun, agaknya, dia melupakan banyak hal. Dia, telah kehilangan ratusan kehangatan pagi dan indahnya embun di dedaunan. Dia juga melewatkan ratusan pelangi yang kerap hadir di atas awan, sebab, kepalanya selalu tertunduk ke bawah. Dia juga, tak sempat untuk menyaksikan ribuan fajar dan ribuan senja.

Dia tak pernah menyaksikan burung-burung yang terbang di angkasa, dan bercericit di atas pohon-pohon. Dia melewatkan banyak sekali layang-layang yang berkejaran di langit, dan meliuk-liukan badannya seperti camar yang membentuk susunan-susunan formasi yang indah. Dia tak sempat merasakan harumnya bunga-bunga di taman, dan tawa riang teman-temanya yang sedang bermain.

Dia tak pernah menemukan senyum hangat setiap orang yang berpapasan dengannya. Dia melewatkan tawa renyah dari kakek yang bertongkat dan selalu mengelus setiap anak yang ditemuinya. Dia, tak pernah merasakan itu semua. Burung yang beterbangan, matahari yang bersinar, dan senyuman itu, bukanlah bagian dari ingatan masa kecilnnya.



***

Sahabat, begitulah hidup. Kita bisa memilih hidup kita dengan kepala
tertunduk, dan pikiran dipenuhi dengan nafsu kekayaan, dan enggan berurusan dengan orang lain. Kita juga bisa memilih hidup, dengan penuh ketakutan, takut kehilangan setiap uang logam, takut akan kritik dan saran, takit pada setiap hal baru yang hadir di depan mata. Kita bisa memilih untuk terpaku pada satu hal, hanya memikirkan diri sendiri.

Ya, kita memang bisa memilih itu semua. Namun, teman, kita juga bisa memilih untuk hidup dengan selalu memandang ke depan, dan pantang menyerah. Kita juga bisa memilih untuk merasakan semua nikmat Allah, dan menjadi bagian dari kehangatan persahabatan dan senyuman. Kita, juga bisa memilih untuk hidup dan berusaha untuk merasakan semua tawa, semua kehahuram bunga, dan keindahan fajar dan matahari senja. Ya, kita memang bisa memilih hidup kita. Tentukanlah dengan matang. ^_^


Wassalamualaikum wr wb.
Salam MOTIVASI!!!